KALAU BUKAN KARENA BEDA, BUAT APA KAMPUS INI ADA

Abu Bassam | Minggu, 30 Oktober 2016 - 08:48:00 WIB | dibaca: 2828 pembaca

(STIKMA-YOGYA) “Different isn’t always better, but the best is always different (Berbeda tidak selalu lebih baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda)”.
Kampus dengan berpegang teguh pada syariat Islam, sudah barang tentu akan menjadi kampus yang benar-benar BEDA dan bahkan “asing”.
Kalau lihat mahasiswa berjenggot dan atau bercelana cingkrang di kampus atau praktek di RS, juga BEDA.
Kalau diantara Mahasiswi ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, kian BEDA.
Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sama halnya kian BEDA.

Ada banyak cara bagi setiap orang untuk melakukan perbedaan, dan ini bergantung dari pengalaman, wawasan, serta kemampuannya untuk menarik hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Salah satu kekuatan yang dimiliki setiap manusia adalah kemampuannya untuk menarik hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi di lingkungannya. Salah satu kekuatan yang dimiliki setiap manusia adalah menemukan inspirasi-inspirasi kehidupan untuk kemudian ditarik menjadi pelajaran yang sangat berharga. Bukankah Isaac Newton juga menemukan teori gravitasi melalui inspirasi yang ditemukannya ketika melihat apel jatuh? “Ada ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya : “Mengapa?”
Karena berpikir beda inilah akhirnya ia menemukan teori Gravitasi yang menjadi sebab diabadikan namanya dalam Hukum Newton.

Ditengah sekularisasi pendidikan di Indonesia, meskipun sekian banyak lembaga pendidikan dengan label islamnya. Namun sedikit sekali diantara institusi pendidikan dengan lugas dan tegas menerapkan syariat islam walaupun tidak jarang berbasa basi dengan berbagai istilah islami, agamis, santri, pesantren, qur’ani ataupun dengan istilah yang semisalnya. Melihat fenomena inilah STIKes Madani menemukan inspirasi kemudian ditarik menjadi pelajaran yang sangat berharga, MENJADI KAMPUS YANG BERBEDA adalah sebuah PILIHAN bahkan keharusan. Memang memulainya terasa berat, bukan hanya menanggung beban mental yang begitu berat tapi juga berat diONGKOS. Bisa dibayangkan menjadi perguruan tinggi yang baru lahir dengan TAMPILAN YANG BERBEDA, baru lahir saja sudah menjadi sorotan apalagi dengan RASA YANG BERBEDA. Mahasiswanya tampilannya sungguh beda, yang laki-laki berjenggot dan celana cingkrang sedangkan cadar begitu familer dikalangan mahasiswinya dan seakan-akan ini telah menjadi TRADEMARK-nya Kampus rasa pesantren ini. Tak hanya cukup dengan ini, kampus kesehatan PERTAMA DAN SATU-SATUNYA di Indonesia yang berusaha untuk berpegang tegung pada MANHAJ SALAF ini dalam pendidikannya dipisah antara mahasiswa IKHWAN dan AKHWATH, mahasiswa wajib asrama dengan segala kegiatannya; kajian tematik, kajian kitab, sholat jamaah ataupun kegiatan Tahfidz. Dan menjadi fenomenal ketika pelaksanaan prosesi wisuda, pakaian wisudawan dan wisudawatinya pun BEDA. Tanpa topi toga dan dandanan yang menor atau TABARRUJ, cukup dengan peci songkok NASIONAL untuk wisudawan dan jilbab lebar untuk wisudawatinya dengan mempertahankan pemisahan ikhwan dan akwath dan TANPA MUSIK.

Meskipun BEDA, tetapi prestasi tetap menjadi perhatian kampus yang beralamat di Jl. Wonosari KM 10 Piyungan Bantul Yogyakarta. Hal ini terlihat dari setiap wisuda selalu ada yang menyelesaikan hafalannya 30 Juz, dan tidak sedikit yang memiliki atau menyelesaikan hafalannya diatas 10 juz. Begitupula dengan prestasi akademiknya, setiap tahunnya tidak kurang 30% atau lebih lulusannya menyandang predikat Cum Laude. Begitu pula dengan lulusan kampus binaan Ust. Abu Nida Chomsaha Sofwan, Lc, Ust Arif Syarifudin, Lc dan atsatidzah lainya, telah mampu menjawab tantangan global. Lulusan angkatan pertama langsung membuktikan kemampuannya di kancah nasional bahkan internasional. Hampir 50% dari Alumni Ners Ikhwan STIKes Madani telah bekerja di Timur Tengah. Dan sungguh ini merupakan nikmat bagi mereka, tinggal di Haramain, fasilitas umroh tiap tahun dan Haji.

STIKes Madani Yogyakarta semakin memantapkan diri sebagai KAMPUS SUNNAH, dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang bukan semata-mata untuk mengembangkan bakat dan minat mahasiswa, tetapi lebih mengutamakan nilai-nilai sunnah. Berkuda merupakan olah raga yang dianjurkan rasulullah selain berenang, jalan dan lari, bela diri dan Memanah. Lagi-lagi STIKes yang memiliki Prodi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Kebidanan dan Farmasi ini menjadi pioneer dalam olah raga sunnah. STIKes Madani menjadi yang Pertama sebagai STIKes yang menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan yang bernilai SUNNAH ini di Indonesia. Perguruan Tinggi Kesehatan yang memiliki keunggulan Thibbun Nabawi ini berusaha untuk menjadi kampus ilmiyah yang amaliyah dan amaliyah yang ilmiyah.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan dan membimbing segenap pengurus STIKes Madani ini berjalan di atas Al quran dan as sunnah dengan Manhaj salaf. Aamiin.





Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)