PERJALANAN KE TANAH NENEK MOYANG

Abu Bassam | Rabu, 05 April 2017 - 10:03:10 WIB | dibaca: 774 pembaca

Nenek moyangku orang pelaut......

Begitu dulu lagu yang diajarkan oleh guru TK kami, dan tahukah kita siapakah nenek moyang kita dalam lagu tersebut?
Dari berbagai suku yang ada di Nusantara, suku yang mendiami pulau Sulawesi-lah yang paling tepat disebut sebagai nenek moyangnya para pelaut. Dan lagu tersebut di atas sangat tepat diperuntukkan mereka. Alhamdulillah, STIKes Madani mendapat kehormatan menjadi tamu salah satu suku nenek moyang pelaut nusantara yaitu suku Mandar dan suku Bajo.

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan terbayarkan oleh sambutan hangat dan penerimaan yang sangat luar biasa dari segenap sesepuh masyarakat dan pesantren dan para santri beberapa pulau tempat kami singgah. Dimulai dari penjemputan kami di Surabaya oleh Ustadz Syahrullah sampai kedatangan kami di pulau Sapeken yang merupakan ibukota kecamatan kepulauan Sapeken yang terdiri dari 21 pulau dan 19 desa. Di Sapeken kami disambut seluruh santri dan Asatidzah dari pondok pesantren Al Barkah pulau Pagerungan Kecil sekitar 3 jam naik perahu dari Sapeken. Di Sapeken kami singgah sebentar di PP Abu Hurairah Persatuan Islam (Persis) dan langsung disambut Ustadz Dailamy al Bughisiy yang merupakan sesepuhnya ulama di kepulauan Sapeken bahkan Nasional dan Ustadz shodiq dari ponpes al Barkah. Dari "tangan dingin" Ustadz Dailamy inilah lahir dai-dai yang tersebar di seluruh pelosok bumi pertiwi termasu Ustadz shodiq ini merupakan dai dari didikan beliau.

Dari perbincangan inilah kami tahu bahwasanya beliau tahu Kampus STIKes Madani Yogyakarta bukan sekedar kampus kesehatan tetapi juga memiliki visi dakwah dan merupakan kampus "Sunnah". Dari sinilah kami mulai berani untuk memperkenalkan bahwa STIKes Madani adalah satu-satunya STIKes "SUNNAH" di Indonesia dan senantiasa berusaha menjalankan sunnah-sunnah nabi dalam setiap nafas roda organisasinya. Semoga Allah memberi kekuatan dan petunjuk kepada kami untuk tetap istiqomah diatas shirothol mustaqim, aamiin.

Menjelang asar kami pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke pulau pagerungan kecil yang sejak tadi para santri telah menunggu di perahu yang akan membawa kita menuju pesantren al Barkah. Dan menjelang maghrib kami telah berlabuh di dermaga kecil pulau ini. Keesokan paginya kami dengan beberapa Ustadz dan jamaah putri berangkat menuju pulau Saseel yang berjarak 3 jam dari Pagerungan. Perjalanan yang cukup seru bagi kami, ini merupakan perjalanan pertama naik perahu nelayan dengan ombak yang memicu adrenalin. Tiba di pulau ini, sebuah sambutan masyarakat yang tidak mungkin kami melupakannya. Di Saseel kami mendampingi Ustadz Dailamy yang punya gawe di pulau ini sampai Maghrib. Perjalanan pulang yang lebih mendebarkan, hujan, gelap malam dan ombak lebih besar dibandingkan dari berangkat tadi pagi.

Pagi harinya, kami gunakan untuk mengisi materi kesehatan dan masalah kesehatan yang sering terjadi di Pondok. Bahkan acara ini berjalan sampai jam 10 malam. Tidak puas santri minta dilanjutkan hari berikutnya pun sampai jam yang sama. Melihat antusias yang luar biasa dari santri kami tiap malam sampai jam 10 kami gunakan waktu bersama santri. Selain di Al Barkah kami pun diberikan kesempatan mengunjungi dua pesantren lain di Pulau yang bila berkeliling hanya membutuhkan 15 menit ini. Tak hanya di Pagerungan kecil, oleh Ustadz Syahrullah kami pun diperkenalkan di pondok Al Kautsar di Pulau Pagerungan Besar yang membutuhkan waktu 15 menit menyeberang menuju ke pulau Pagerungan Besar.

Akhirnya tiba waktunya kami harus meninggalkan Pagerungan untuk menuju ke Sapeken tempat kami kembali ke Jogja dengan Kapal, dan untuk memenuhi janji kami kepada Ustadz Dailamy atas undangan Beliau. Di Pesantren Abu Hurairah ini kami diberikan waktu seluas-luasnya. Hal yang membuat kami trrus bertahan adalah Antusiasnya para Santri Pesantren Abu Hurairah Pulau Sapeken dalam mencatat materi pendidikan kesehatan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan yang menunjukkan kebutuhan mereka akan ilmu dan skill P3K, apalagi dengan kondisi Sekolah yang berada di pulau dikelilingi lautan yang rawan terjadi kecelakaan di laut.

Kejadian kecelakaan baik yang darurat tidak gawat, atau gawat darurat kerap kali terjadi di Sekolah atau di lingkungan sekitar. Mulai dari kejadian pingsan, cidera, tenggelam, sampai perdarahan dan fraktur (patah tulang).

Adanya kejadian kecelakaan di Sekolah baik setingkat SD, SMP dan khususnya SMA menuntut tersedianya SDM penanggungjawab UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) mempunyai pengetahuan dan skill yang memadai dalam menolong siswa yg mengalami pingsan atau Cidera.
Pertolongan yang cepat, tepat sangat diperlukan pada kasus-kasus kegawatdaruratan di Sekolah, jika tidak, maka akan menimbulkan masalah kesehatan yang serius bahkan terjadi kecacatan permanen atau Kematian.

Nah.., Sudahkah Sekolah dan Pondok Pesantren anda mempunyai Tenaga Penanggungjawab UKS dan Kader UKS atau UKP atau Puskestren yang handal dan professional??

Jika belum..., Anda dapat menghubungi Kami untuk mendapatkan pelatihan Kesehatan dan Kegawatdaruratan Secara Gratisss.


CP/Kontak Kami
Ivana Eko Rusdiatin, S.Kep., M.Sc
UPT Laboratorium STIKes Madani Yogyakarta 0813-2885-5055

Atau datang langsung ke Alamat:
STIKes Madani Yogyakarta
Jl. Wonosari Km.10 Karanggayam Sitimulyo Piyungan Bantul DIY

"Kampus Rasa Pesantren"

 
Foto STIKes Madani Yogyakarta.
 
Foto STIKes Madani Yogyakarta.
 
Foto STIKes Madani Yogyakarta.
 
 
Baca Juga:
 
 



Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)